Kadikbud Malut Temui Anak-anak Pulau Rao, Menyeberang Laut Demi Pendidikan

Pendidikan16 Dilihat

Morotai, NusaPena – Laut menjadi bagian dari perjalanan panjang anak-anak Pulau Rao menuju sekolah. Setiap hari, sejumlah pelajar harus menyeberangi laut menggunakan perahu untuk mengikuti pelajaran di SMA Kristen Posi-Posi Rau, Kabupaten Pulau Morotai.

Di tengah cerita perjuangan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, memilih datang langsung menemui mereka pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Abubakar bertindak sebagai inspektur upacara yang diikuti pelajar SD, SMP, SMA, para guru, serta jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara dan Cabang Dinas Pendidikan Pulau Morotai.

Di halaman sekolah yang berada di wilayah kepulauan tersebut, Merah Putih berkibar. Para pelajar berdiri tegak mengikuti upacara, meski sebagian dari mereka harus menempuh perjalanan laut untuk bisa sampai ke sekolah.

Kadikbud Abubakar Abdullah di tengah-tengah siswa Pulau Rao

Kehadiran Kadikbud Malut itu merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Maluku Utara Serly Djuanda Laos agar jajaran pendidikan hadir langsung dan membersamai para pelajar di wilayah terpencil.

“Kami ingin anak-anak di pulau terpencil merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Negara hadir dan pemerintah hadir bersama mereka,” kata Abubakar.

Untuk mencapai Posi-Posi Rau, rombongan Dikbud harus menempuh perjalanan panjang. Dari Sofifi menuju Tobelo, kemudian ke Daruba, ibu kota Kabupaten Pulau Morotai. Perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Wasbula, Morotai Selatan Barat, sekitar 1,5 jam.

Dari Wasbula, perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan perahu menuju Posi-Posi Rau.

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengakses pendidikan di wilayah kepulauan Maluku Utara.

SMA Kristen Posi-Posi Rau tidak hanya menampung pelajar dari wilayah setempat. Sejumlah siswa berasal dari pulau tetangga, termasuk Saminyamau.

Untuk bersekolah, mereka harus menyeberangi laut. Ada yang diantar orang tua menggunakan perahu, sementara sebagian lainnya bahkan harus mendayung sendiri.

“Bagi mereka, pergi ke sekolah bukan perkara sederhana. Mereka harus menyeberangi laut. Tetapi semangat mereka untuk belajar tidak pernah surut,” ujar Abubakar.

Bagi Abubakar, kondisi geografis tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak di wilayah terpencil kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Laut boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan cita-cita anak-anak Indonesia,” katanya.

Ia menegaskan, anak-anak di wilayah terpencil memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan mengembangkan potensi mereka.

Karena itu, pemerataan layanan pendidikan harus benar-benar menjangkau seluruh wilayah, termasuk sekolah-sekolah yang berada jauh dari pusat pemerintahan.

Selain memimpin upacara, rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara juga membawa bantuan komputer dari Gubernur Maluku Utara Serly Djuanda Laos untuk SMA Kristen Posi-Posi Rau dan SMA BPD Leo Leo.

Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang proses pembelajaran sekaligus membuka akses siswa terhadap teknologi dan informasi.

“Kami datang bukan hanya untuk upacara. Kami ingin melihat langsung kondisi sekolah, mendengar kebutuhan anak-anak dan guru, serta membawa dukungan yang bisa membantu proses pembelajaran,” ujar Abubakar.

Kehadiran Kadikbud Malut mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Pulau Rao. Bagi mereka, perhatian pemerintah terhadap pendidikan di wilayah terpencil menjadi penting karena tantangan geografis masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di Pulau Rao, kemerdekaan akhirnya tidak hanya dirayakan melalui pengibaran Merah Putih.

Ia hadir dalam cerita anak-anak yang rela menyeberangi laut demi duduk di bangku sekolah.

Di antara laut dan perahu, mereka tetap belajar, bermimpi dan menatap masa depan.

Dan ketika Merah Putih berkibar di halaman sekolah, pesan itu menjadi semakin jelas. Jarak boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan anak-anak Indonesia dari cita-citanya. (srm)

Komentar