“Saya ingin lanjut sekolah.”
Kalimat pendek itu keluar dari mulut Habib, siswa kelas VIII SMP Negeri 69 Halmahera Selatan. Usianya baru 12 tahun, tetapi keadaan hidup telah memaksanya berhadapan dengan persoalan yang seharusnya tidak perlu dipikul seorang anak seusianya.
Habib nyaris kehilangan kesempatan untuk belajar bukan karena tidak ingin sekolah. Bukan pula karena ia siswa bermasalah. Kemiskinan keluargalah yang membuat langkahnya menuju ruang kelas terhenti.
Selama hampir dua bulan, Habib tidak lagi mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti teman-temannya. Buku, alat tulis, tas, seragam, sepatu hingga biaya transportasi menjadi kebutuhan yang sulit dipenuhi keluarganya.
Habib merupakan anak pasangan Jaka (51) dan Safa Suleman (38), warga Desa Wayamiga, Kecamatan Bacan Timur, Halmahera Selatan.
Ayahnya hanya lulusan sekolah dasar. Sehari-hari Jaka bekerja serabutan sebagai petani dan buruh kasar dengan penghasilan yang tidak menentu. Rata-rata pendapatannya bahkan kurang dari Rp1 juta per bulan.
Sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Dengan kondisi tersebut, Jaka harus berjuang menghidupi delapan anggota keluarga. Keluarga ini bahkan tidak memiliki rumah sendiri.
Mereka selama ini tinggal menumpang di sebuah gubuk bekas mes pekerja milik PT Bela di Dusun Sungaira, Desa Wayamiga.
Di tempat sederhana itulah Habib tumbuh dan menyimpan cita-citanya. Namun, keterbatasan ekonomi perlahan membuat cita-cita itu terasa semakin jauh.
Bukan karena Habib tidak mampu belajar. Ia justru dikenal sebagai anak yang aktif dan memiliki kehadiran baik di sekolah sebelum persoalan ekonomi membuatnya berhenti datang.
Melihat Habib hampir dua bulan tidak masuk sekolah, pihak SMP Negeri 69 Halsel tidak tinggal diam.
Pada 16 Agustus 2026, wali kelas Habib, Ida Royani Sabar, bersama sejumlah guru mendatangi tempat tinggalnya. Mereka ingin mengetahui secara langsung alasan Habib tidak lagi mengikuti pembelajaran sekaligus mencari jalan keluar.
Kedatangan para guru membuka kenyataan bahwa persoalan Habib bukan sekadar soal ketidakhadiran di sekolah. Ada keluarga yang sedang berjuang bertahan hidup, sementara seorang anak harus mempertaruhkan pendidikannya.
Dalam kunjungan tersebut, guru bernama Mirnawati Tidore menyatakan kesediaannya membantu Habib. Ia bahkan bersedia membawa Habib tinggal sementara di rumahnya agar anak tersebut bisa kembali bersekolah.
Bantuan itu menjadi secercah harapan. Habib kembali memiliki kesempatan untuk mendekati ruang kelas yang selama hampir dua bulan harus ia tinggalkan. Namun, perjuangannya belum selesai.
Ia masih membutuhkan seragam sekolah, buku pelajaran, alat tulis, sepatu serta biaya transportasi untuk menunjang aktivitasnya setiap hari.
“Saya ingin lanjut sekolah,” ujar Habib dengan nada sedih saat ditemui media ini, Jumat (21/8/2026).
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Tetapi bagi Habib, bisa kembali bersekolah adalah sebuah harapan besar.
Wali kelasnya, Ida Royani Sabar, mengatakan Habib bukan anak yang bermasalah.
“Habib adalah anak yang aktif dan memiliki kehadiran baik. Ia tidak bodoh, hanya kalah dengan keadaan. Kondisi ekonomi orang tuanya membuat dia hampir kehilangan hak untuk belajar,” ungkap Ida.
Kisah Habib menjadi potret kecil dari perjuangan anak-anak di daerah yang harus berhadapan dengan kemiskinan sebelum bisa menikmati pendidikan.
Di satu sisi, sekolah berupaya menyelamatkan Habib agar tidak kehilangan masa depan. Di sisi lain, kebutuhan pendidikan anak itu masih membutuhkan uluran tangan lebih banyak pihak.
Pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, diharapkan dapat melihat kondisi Habib secara langsung dan mengambil langkah nyata agar ia dapat kembali mengikuti pendidikan secara normal.
Sebab, Habib tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Ia hanya ingin sekolah.
Ia ingin kembali mengenakan seragam, membawa buku, bertemu guru dan duduk bersama teman-temannya di dalam kelas.
Di tengah kemiskinan yang membelenggu keluarganya, mimpi Habib sebenarnya masih sederhana: belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Jangan biarkan keadaan ekonomi keluarganya menjadi alasan seorang anak kehilangan hak untuk bermimpi.
Karena terkadang, yang dibutuhkan seorang anak untuk mengubah hidupnya hanyalah satu kesempatan untuk tetap bersekolah. (len)


Komentar