SANANA, NusaPena — Dugaan permainan distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Kepulauan Sula kembali mencuat. BBM yang semestinya diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat setempat diduga justru dialirkan secara ilegal menuju Kabupaten Pulau Taliabu.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, BBM jenis Pertalite, Solar hingga Minyak Tanah diduga ditimbun terlebih dahulu di lokasi tertentu sebelum diangkut menggunakan fiber menuju wilayah Taliabu.
Yang membuat dugaan ini semakin serius, aktivitas tersebut disinyalir mendapat “pengamanan” dari oknum aparat tertentu. Dugaan adanya beking aparat mencuat karena aktivitas pengiriman disebut telah berlangsung berulang kali dan relatif luput dari pengawasan.
Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, BBM diduga dikumpulkan di lokasi tertentu sebelum diseberangkan melalui jalur laut.
“Penyelundupan ini sudah berlangsung cukup lama. Kami menduga ada keterlibatan oknum yang ikut mengamankan jalur distribusinya, sehingga aktivitas penyelundupan dari Sula ke Taliabu ini terkesan luput dari pengawasan,” ujar sumber tersebut, Senin (31/8/2026).
Dugaan aliran BBM keluar daerah ini juga dikaitkan dengan keluhan masyarakat terkait sulitnya memperoleh BBM bersubsidi di sejumlah titik penyaluran di Kepulauan Sula.
Saat pasokan sulit ditemukan, harga BBM di tingkat pengecer disebut ikut melonjak. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai ke mana sebenarnya aliran BBM bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat Sula.
Informasi lain yang diterima menyebutkan, pengiriman BBM menuju Taliabu Selatan diduga dilakukan berulang.
“Iya, hari Sabtu kemarin Masri bawa minyak ke Taliabu Selatan sampai dua kali antar. Dia pakai bodi fiber (longboat),” ungkap sumber lainnya.
Jika dugaan tersebut terbukti, persoalan ini berpotensi tidak hanya menyangkut penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi, tetapi juga dugaan adanya jaringan yang mengambil keuntungan dari barang subsidi pemerintah.
Publik pun mulai mempertanyakan bagaimana BBM yang diperuntukkan bagi masyarakat Kepulauan Sula dapat keluar daerah secara berulang tanpa terdeteksi.
Siapa pemasoknya? Dari pangkalan mana BBM itu diperoleh? Berapa banyak yang diseberangkan ke Taliabu? Dan benarkah ada oknum aparat yang memberikan pengamanan?
Pertanyaan tersebut kini menunggu jawaban aparat penegak hukum dan instansi terkait.
Masyarakat berharap dugaan praktik tersebut tidak berhenti sebagai isu, tetapi segera ditelusuri secara terbuka. Jika ditemukan pelanggaran, penindakan diharapkan tidak hanya menyasar pelaku lapangan, tetapi juga pihak-pihak yang diduga berada di balik rantai distribusinya. (ysn)


Komentar